Minggu, Maret 8, 2026
BerandaDaerahBerhasil Tekan Stunting, Ini Upaya Dinkes Kampar

Berhasil Tekan Stunting, Ini Upaya Dinkes Kampar

KAMPAR -(auranews.co.id)- Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa.

Seperti kata Kadiskes Kampar H Dedy Sambudi, S.Km, M.Kes didampingi Kasi Kesehatan Keluarga Gizi Dinkes Meldy Diani, Rabu (01/07/2020) siang, selain menyebabkan kerdil, juga bisa menggangu perkembangan otak anak. Sehingga mempengaruhi kemampuan sang anak.

Hal ini dikarenakan anak stunted, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang mana tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.

Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

Padahal seperti kita ketahui, genetika/keturunan merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.

Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.

Menurut Dedy, terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih.

Seringkali masalah-masalah non kesehatan menjadi akar dari masalah stunting, baik itu masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, kemiskinan, kurangnya pemberdayaan perempuan, serta masalah degradasi lingkungan. Karena itu, kesehatan membutuhkan peran semua sektor dan tatanan masyarakat.

(Kiri-kanan) Kadiskes Provinsi Riau Hj Mimi Yuliani Nazir, Bupati Kampar H Catur Sugeng Susanto SH, Kadiskes Kampar H Dedy Sambudi, S.Km, M.Kes pada saat acara Konvergensi Intervensi Stunting

Pada tahun 2017, angka stunting yang terjadi di Kampar sebesar 27% dan naik menjadi 31% pada tahun 2018. Dan pada tahun 2019, melalui berbagai upaya yang dilakukan, Pemkab Kampar melalui Dinkes Kampar berhasil menekan angka stunting hingga 11,88%.

Hal ini merupakan sebuah pencapaian yang sangat signifikan karena target penurunan angka stunting yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia adalah di kisaran 14%.

Menurut Dedy Sambudi, ada dua hal yang dilakukan oleh Dinkes Kampar dalam menurunkan angka stunting, Intervensi Spesifik dan Intervensi Sensitif.

Dalam Intervensi Spesifik, Dedy Sambudi melakukan serangkaian kegiatan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa 1.000 hari pertama kehidupan yang dimulai saat pembuahan di Rahim hingga bayi berusia dua tahun merupakan masa yang paling kritis.

Selain memberikan pemahaman tersebut, Dinkes Kampar juga melakukan kegiatan pemberian makanan tambahan, imunisasi, memperbaiki gizi dengan pemberian TNT bagi balita, TNT bagi ibu hamil, pemberian tablet Fe tambah darah.

Serangkaian upaya menekan angka stunting di Kampar hanya mencapai keberhasilan sebesar 30% saja. Dan sisanya ditentukan oleh tindakan yang kedua, yakni:

Intervensi Sensitif, harus dilakukan bersama-sama dan secara lintas sektor dalam lingkup pemerintah daerah melalui serangkaian program pembangunan yang tepat sasaran.

Kerjasama lintas sektor dalam lingkup Pemkab Kampar langsung dipimpin oleh Bupati Catur Sugeng Susanto, SH melalui arahan pembangunan yang mendukung penurunan angka stunting.

Seperti mengarahkan program di Dinas PUPR, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Perikanan, DPPKB-P3A, Dinas Perkim, Kemenag, dan Instansi pemerintah terkait lainnya.

Untuk membentuk tim penanggulangan stunting desa yang melibatkan stakeholder terkait dimana tim ini bertugas membuat rencana kegiatan dan mengkoordinasikan kegiatan penanggulangan stunting di desa sesuai dengan permasalahan yang ada.

Dampak dari intervensi sensitif ini dalam menekan angka kasus stunting adalah sebesar 70%. Atas prestasi tersebut, Pemkab Kampar mendapat catatan bagus dari Bappenas RI.

Pada tahun 2020 penetapan desa lokus stunting di Kabupaten Kampar berdasarkan hasil entry Sigizi Terpadu (e-PPGBM) dijumpai prevalensi stunting lebih kurang 20 persen sebanyak 16 desa.

Data desa dengan cakupan stunting diatas 20 persen terdapat di Desa Ranah Singkuang 23,29 persen, Teluk Kenidai 24,88 persen, Balung 26,51 persen, Sungai Geringging 25 persen, Sungai Raja 20,41 persen, Padang Sawah 23,17 persen.

Sungai Liti 23,94 persen, Bangun Sari 20,78 persen, Bukit Betung 23,73 persen, Batu Sanggan 20,51 persen, Tanjung Karang 33,33 persen, Indra Sakti 23,21 persen, Kampung Pinang 20,13 persen, Sialang Kubang 20,52 persen, Sungai Putih 20,95 persen, dan Tabing 21,35 persen.

Untuk mewujudkan Kabupaten Kampar 2022 bebas stunting, Dedy Sambudi bersama dinas yang dipimpinnya gencar melakukan sosialisasi secara personal maupun kelompok.

Melakukan sosialisasi tentang stunting kepada masyarakat di desa melalui tokoh dan media yang familiar di desa.

Kadiskes Kampar H. Dedy Sambudi, S.KM, M.Kes saat memberikan asupan makanan tambahan bergizi kepada balita penderita stunting beberapa waktu yang lalu.

Sosialisasi dilakukan oleh kader, petugas kesehatan maupun tokoh masyarakat di desa. Tempat sosialisasi bisa dimana saja misalnya posyandu, pertemuan PKK ataupun rapat resmi di desa.

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang bervariasi sesuai dengan umur. Jenis PMT yang diberikan dibedakan menurut kelompok umur mengingat kemampuan anak makan juga berbeda sesuai kelompok umur.

Biasanya dibedakan untuk kelompok umur 6 bulan – 1 tahun dan diatas 1 tahun. Untuk anak di bawah setahun diberikan bubur dan makanan lunak lainnya. Untuk anak diatas 1 tahun, PMT yang diberikan lebih bervariasi misalnya puding buah, es buah, biskuit, telor, susu, kue dengan tambahan buah dan lainnya.

Latih kader posyandu tentang stunting. Tujuan pelatihan kader ini adalah untuk meningkatkan pemahaman kader tentang stunting sehingga dapat memberikan informasi yang benar kepada masyarakat.

Hal ini sangat penting karena para kader adalah petugas yang akan langsung berhadapan dengan masyarakat dalam kegiatan sehari-hari.

Kunjungan rumah kepada ibu dengan anak stunting. Kunjungan rumah dilakukan oleh kader posyandu kepada ibu balita dengan stunting yang tidak dapat datang ke posyandu dan kepada keluarga balita yang memiliki masalah tertentu misalnya orangtuanya sakit dan lain-lain.

Tujuannya adalah mengetahui perkembangan anak dan memberikan penyuluhan langsung kepada keluarga.

Keberhasilan upaya penanggulangan stunting di desa sangat dipengaruhi oleh komitmen dan kerjasama seluruh stakeholder.

Pendampingan dari petugas pendamping kesehatan desa sangat memegang peranan penting dalam upaya penanggulangan stunting. Bahwa upaya penanggulangan yang telah dilakukan agar dapat diteruskan hingga mewujudkan Kabupaten Kampar 2022 bebas stunting. (FLS)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments