Oleh
Lusiana Paluzi, M.Pd
Ketua IGTKI Kab. Kampar
Antisipasi penyebaran virus Corona di Kab. Kampar, seluruh siswa TK/PAUD, SD, dan SMP diliburkan pada 16–30 Maret atau selama dua pekan dan ditambah lagi sampai tanggal 19 april 2020.Kebijakan itu dilakukan sesuai dengan Surat Edaran Nomor 443/Dikpora-Diknas/2635, tanggal 16 maret 2020 tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan Pendidikan. Dengan adanya SE itu, semua kegiatan yang menyangkut dengan kegiatan belajar mengajar diliburkan untuk sementara waktu.
Kepala Dinas Pendidikan Kab. Kampar, Drs. M. Yasir, MM, mengatakan sesuai petunjuk pimpinan dan SE Gubernur Riau, pembelajaran siswa tingkat PAUD/TK, SD, dan SMP dilakukan di rumah, untuk pembelajaran tatap muka diganti dengan e-learning (belajar Online) dengan menggunakan Google Class Room, Whatsapp (WA), group mata pelajaran, laman rumah belajar Kemendikbuddan atau jenis pembelajaran online dan bentuk tugas lainnya.
Kata M Yasir, pembelajaran di rumah itu sistemnya untuk ditingkat SMP, siswa belajar secara online melalui WA. Kemudian bagi siswa yang rumahnya sulit jaringan disikapi pembelajaran secara manual seperti membaca buku paket dan diberikan tugas.
“Kalau untuk SMP sudah 90 persen siap pembelajaran menggunakan Android,” tutur M Yasir.
Sementara untuk murid SD, pembelajaran dilakukan lebih banyak menggunakan cara manual. Sebab untuk mengoperasikan online bagi kelas rendah seperti di kelas 1, 2, dan 3 dimungkinkan belum mampu. Oleh sebab itu murid diberikan tugas membaca buku paket.
Dia menambahkan untuk mengurangi penularan Covid-19 di Kab. Kampar, kegiatan ekstra yang sudah diprogramkan sekolah diminta untuk ditunda. Apapun kegiatan yang melibatkan masa dengan jumlah banyak, ditunda.
“Jadi ini rohnya untuk mengkarantina siswa agar menghindari kontak langsung dengan orang banyak,” tegas M Yasir.
Diharapkan seluruh lembaga pendidikan tidak melaksanakan aktivitas seperti biasanya. Hal itu dapat meminimalisir penyebaran penyakit Covid-19 ini.
Penyebaran Virus Corona ini pada mulanya sangat berdampak pada dunia ekonomi yang mulai lesu, akan tetapi kini dampaknya juga dirasakan oleh dunia pendidikan.
Kebijakan yang diambil oleh banyak negara,termasuk Indonesia dengan meniadakan seluruh aktivitas pendidikan, membuat pemerintah dan lembaga terkait harus menghadirkan alternatif sebagai proses pendidikan bagi peserta didik Berkembangnya virus Corona ini ternyata tidak hanya berdampak di bidang kesehatan saja namun juga pada sektor lainnya termasuk ekonomi, pendidikan dan lainnya.
Pada sektor pendidikan adanya virus Corona ini pemerintah mengeluarkan aturan bahwa proses pendidikan dan pembelajaran pada setiap tingkat satuan pendidikan dilakukan di rumah dengan pendampingan orang tua.
Pendampingan pembelajaran yang dilakukan di rumah menuntut orang tua terlebih seorang ibu untuk memaksimalkan perannya dalam menerapkan berbagai jenis dan model pola asuh yang paling tepat untuk mendampingi putra-putrinya di rumah terutama jika mereka masih berusia pra-sekolah (3-6 tahun, TK /PAUD) dan tingkat sekolah dasar (7- 12 tahun), karena pada usia-usia ini anak masih bersifat unik dan egosentris, ingin menang sendiri, anak
bersifat aktif dan energik, anak masih kurang pertimbangan dalam bertindak, agak susah diatur, tapi masa ini merupakan masa belajar yang paling potensial.
Oleh karenanya orang tua seyogyanya pandai-pandai betul mengenali karakter putra-putrinya sehingga pendampingan proses pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan di rumah benar-benar tepat sasaran, artinya proses pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan berlangsung secara psikologis (sesuai kebutuhan dan karakter anak).
Di masyarakat luas tidak jarang ditemukan orang tua dalam melakukan pendampingan pola asuh pada putra-putrinya masih dilakukan dengan cara keras, membentak, memaksa dan bahkan sampai memukul jika anaknya tidak mau menuruti kemauan orang tuanya dalam hal belajar hingga anaknya menangis.
Jika tekanan-tekanan yang demikian ini setiap hari dilakukan orang tua walaupun tujuannya baik yakni supaya anaknya pintar tapi dengan pendekatan yang kurang tepat.
Pola asuh demikian ini termasuk cara-cara otoriter yakni pola asuh orang tua yang lebih mengutamakan membentuk kepribadian anak dengan cara menetapkan standar mutlak harus dituruti , biasanya dibarengi dengan ancaman- ancaman.
Ciri-cirinya antara lain adalah; 1)Anak
harus tunduk dan patuh pada kehendak orang tua, 2) Pengontrolan orang tua terhadap perilaku anak sangat ketat, 3) Anak hampir tidak pernah diberi pujian, 4) Orang tua tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah, 5) Orang tua menerapkan peraturan yang ketat, 6) Tidak adanya kesempatan untuk mengemukakan pendapat, 7)Segala peraturan yang dibuat harus dipatuhi oleh anak, 8) Berorientasi pada hukuman (fisik maupun verbal).
Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam,
tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri, anak mudah tersinggung, pemurung dan merasa tidak bahagia, mudah terpengaruh, mudah stress, tidak mempunyai arah masa depan yang jelas.
Itulah dampak dari model pola asuh yang hanya dilakukan oleh mereka yang berperan sebagai monster-monster
pendidikan yang tidak pernah mau mengenal anak dan tidak pernah tahu kepribadian anaknya secara utuh.
Oleh karena itu saat ini untuk menyikapi kebijakan pemerintah terkait dengan pembelajaran yang dilakukan di rumah akibat munculnya Covid-19 ini, orang tua harus lebih hati-hati dalam melakukan pendekatan selama proses pendampingan belajar di rumah bagi putra-putrinya
supaya tidak salah langkah.
Perlakuan orang tua dalam layanan bimbingan pada anak di rumah setidaknya harus menampilkan hal-hal berikut; 1) Menerima anak apa adanya, 2) Memperlakukan anak dengan
penuh kasih sayang, 3) Tidak menuntut anak untuk menunjukkan perubahan perilaku dengan segera, 4) Tidak memaksa anak untuk memenuhi keinginan orang tua, 5) Sabar, penuh kehangatan dan toleransi 6) Pemaaf, menghargai dan memberi kebebasan pada anak.
Jika ini yang dilakukan orang tua.
Apalagi selama masa pandemi virus corona kementerian Pendidikan dan Kebidayaan
(Kemendikbud) meminta agar guru-guru di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidak
memberikan tugas kepada muridnya, anak-anak diberikan kemerdekaan untuk bermain sepuas-puasnya, yang jelas untuk anak PAUD itu tidak ada yang namanya penugasan-penugasan dari guru kepada anak-anak, sekarang jelas yang yang telah disampaikan oleh Mas Menteri, tapi justru orang tua, minta bu guru “mana PR untuk anak kami”, disini sudaah ditegaskan untuk anak PAUD tidak dibenarkan untuk diberi tugas, anak hanya diberi kebebasan untuk bermain sesuka hatinya dan didampingi oleh orang tua, disini kelihatan ketakutan orang tua ketika anaknya akan dimasukan ke jenjang sekolah selanjutnya, ketakutan apa yang akan mereka jumpai, anak mereka belum siap untuk calistung. Nah sekarang bagaimana cara orang tua menangani anaknya, guru memberikan bagaimana cara bermain yang benar,
Kerjasama antara guru dan orang tua harus saling terjaga, kerena keterlibatan orang tua
juga penting selama anak belajar di rumah, guru tidak menyarankan orang tua untuk
memberikan gadget agar anak membuat diam saat berada dirumh, banyak kendala yang ditemui oleh para guru dan orang tua ketika masalah corona melanda dunia, terlebih di daerah kita, para guru terbebani karena mereka terasa makan buah simalakama, sebagian kita memandang
pendidikan tanpa sekolah lebih mudah daripada pendekatan belajar yang lebih terstruktur, karena ada lebih sedikit tugas formal yang harus dikerjakan, tidak ada pelajaran untuk direncanakan, tidak ada ceramah atau tugas untuk diberikan, tidak ada tes untuk ditulis dan dinilai, pendidikan tanpa sekolah juga lebih sulit dalam hal bahwa setiap orang selalu siap untuk belajar: apa saja dan segalanya menjadi kegiatan yang” mendidik.”
