TAPUNG(auranews.co.id) – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kampar, Repol S.Ag mengunjungi kebun lada milik Abdul Basit di Desa Pancuran Gading, Kecamatan Tapung. Ia menyadari ternyata banyak sekali potensi unggulan yang bisa dikembangkan di Kabupaten Kampar, salah satunya adalah lada.
“Untuk sehektar tanaman lada dapat memproduksi antara Rp 45 – 50 juta rupiah per hektare per tahun,” kata Repol, Ahad (5/4/2020) sembari menjelaskan prospek pasar komoditas lada sangat besar baik lokal dan global.
Repol menerangkan bahwa lada berprospek cerah terlebih akibat komoditas non migas ini membutuhkan sinar matahari antara 50-70 persen sehingga cocok untuk dijadikan tanaman sela komoditas perkebunan. Lada telah berproduksi pada umur tiga bulan dan pada umur setahun bisa berproduksi normal.
Bagi petani yang memiliki lahan yang kecil, ulasnya, tidak mesti menanam kelapa sawit, karet atau kelapa, maka komoditas lada tentu bisa dikembangkan. Tanaman lada itu lebih bagus dari kelapa sawit, apalagi bagi petani yang memiliki lahan yang sedikit, seperempat hektar tanaman lada itu jauh lebih tinggi hasilnya dari satu kapling tanaman kelapa sawit.
“Semoga ke depan akan lebih banyak lagi potensi komoditas selain kelapa sawit yang bisa kita gali di Kabupaten Kampar, dan kami beserta Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar akan selalu memberikan dukungan melalui kebijakan dan program di masa yang akan datang,” kata Repol.
Sementara, Kepala Desa Pancuran Gading H. Juli Sriyatno, SP pada kesempatan itu menyampaikan bahwa saat ini ia bersama warga sedang giat mengembangkan tanaman holtikultura non sawit diantaranya lada dan pepaya madu.
“Kami bertekad untuk menjadikan Desa Pancuran Gading sebagai dewa wisata agro terdepan di Kabupaten Kampar, dengan berbagai komoditas unggulan yang saat ini sedang dikembangkan oleh warga secara swadaya,” kata Juli.
Dari pantauan dilapangan, hijau tanaman lada yang merambat pada tajuk nampak hijau dan berbuah lebat. Lada di kebun pak Abdul Basit ini saat ini telah berumur 4 tahun. Dari 800 batang tajuk pohon lada milik pak Basit yang ditanam di areal kebun seluas setengah hektar ini, petani bertangan dingin ini bisa menghasilkan 120 – 150 kg lada kering per tahun dengan harga 150 – 200 ribu rupiah per kilonya.
Lada disebut juga merica yang mempunyai nama Latin Piper Albi Linn adalah sebuah tanaman yang kaya akan kandungan kimia seperti minyak lada, minyak lemak, juga pati. Lada bersifat sedikit pahit, pedas, hangat, dan antipiretik. Tanaman ini sudah mulai ditemukan dan dikenal sejak puluhan abad yang lalu. Pada umumnya orang-orang hanya mengenal lada putih dan lada hitam yang sering dimanfaatkan sebagai bumbu dapur.
Tanaman ini merupakan salah satu komoditas perdagangan dunia dan lebih dari 80 persen hasil lada Indonesia diekspor.
Selain itu, lada mempunyai sebutan “raja rempah-rempah” dengan kebutuhan lada di dunia tahun 2000 mencapai 280.000 ton.(rls)
