BANGKINANG KOTA(AuraNEWS.id) – In House Training (IHS) Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3 RS) yang ditaja Komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) RSUD Bangkinang dan Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (A2K3) Kabupaten Kampar, pada pelaksanaan hari ke dua, Rabu (13/2/2019) menghadirkan beberapa Pembicara.
Didaulat sebagai Pembicara I, Koordinator Inspeksi dan Audit A2K3 Kabupaten Kampar, Dirga Irama, SKM, dengan Judul Materi Peralatan dan system Utility / Penunjang Non Medis. Pembicara II, Koordinator Bidang Fire Prevention and Rescue Asosiasi A2K3 Kabupaten Kampar, Afrizal, SH, MH dengan Judul Materi Penanggulangan Bencana Kebakaran dan Sistem Tanggap Darurat.
Kedua Pembicara ini mengupas tuntas tentang Standar Peralatan dan system Utility (Listrik dan Air / Penunjang Non Medis K3 RS), kemudian aturan mengenai pentingnya pengkalibrasian alat-alat medis.
Peserta juga dibekali dengan ilmu tentang bagaimana cara menghadapi keadaan darurat terutama kejadian bencana kebakaran di rumah sakit sehingga mampu mengoptimalkan pelaksanaan K3 di rumah sakit.
Direktur RSUD Bangkinang yang diwakili oleh Hendrawan, SKM, M.Si yang juga sebagai Ketua Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (A2K3) Kabupaten Kampar dan didampingi oleh Bidang Kesehatan Kerja dr. Al Fath-Hu Rahmat (Dokter Hyperkes), mengapresiasi kegiatan ini.
Kegiatan In House Training ini sangat bermanfaat sekali bagi seluruh pegawai rumah sakit dan berharap nantinya mampu melakukan penanggulangan kebakaran secara cepat, tepat, dan efektif sehingga seluruh penghuni rumah sakit, baik dari pegawai, pasien, keluarga pasien, dan asset penting di rumah sakit dapat terselamatkan dan terjaga dengan baik.
Setiap pegawai di Rumah Sakit diberikan kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan K3 untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan dibidang K3. Komite K3 Rumah Sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan K3 bagi pegawai secara berkala dan berkesinambungan.
Materi pendidikan dan pelatihan K3 sekarang ini lebih mengedepankan code red, dimana pembagian sistem kerja ketika terjadi kejadian kebakaran disesuaikan dengan warna tiap helm yang terdapat pada papan instrumen code red yang sudah terpasang di rumah sakit.
Helm merah sebagai koordinator pemadam api, helm kuning membantu evakuasi pasien, helm putih menyelamatkan atau mengamankan dokumen penting serta helm biru berperan dalam menyelamatkan asset, seperti peralatan medis dan membantu mengarahkan seluruh pegawai maupun pasien ke titik kumpul aman atau muster point.
Pada akhir kegiatan dilakukan simulasi code red di lantai 3 ruangan Ali, masing-masing peserta dibagi atas warna helm tersebut, yang berperan sebagai tim pemadam 9 orang, tim evakuasi pasien 9 orang, tim evakuasi dokumen 9 orang, tim evakuasi asset dan keamanan 9 orang serta yang berperan sebagai pasien 5 orang. Pada simulasi ini menggambarkan kejadian yang sesungguhnya, yaitu bagaimana kesiapan petugas dalam memadamkan api, bagaimana petugas siap mengevakuasi pasien, mengevakuasi dokumen, serta kesiapan security sebagai tim keamanan dan juga penyelamatan asset.
Kesiapan mental seluruh peserta pelatihan sangat diharapkan apabila dihadapkan dengan keadaan darurat yang sebenarnya seperti bahaya kebakaran.
Adapun Tindak lanjut dari kegiatan ini adalah mempersiapkan dan menginventarisasi kebutuhan peralatan K3 RS, menyusun dan menginventarisasi kebutuhan sarana dan prasarana sesuai standar akreditasi RS: rambu-rambu evakuasi, rambu-rambu B3, membuat jalur evakuasi, poster keselamatan, alarm kebakaran, memonitor dan melakukan uji coba program : Kalibrasi alat-alat baik medis maupun non medis, Melakukan penyebaran dan uji coba alat-alat pengamanan kebakaran dan asap meliputi setiap alat yang terkait untuk deteksi dini bahaya kebakaran.(FDr)
