KAMPAR – Anggota DPD/MPR RI dapil Riau Edwin Pratama Putra, SH menjadi salah satu narasumber pada diskusi publik DPD Golkar Kampar dalam rangka HUT ke-57 Golkar di Bangkinang Kota, Selasa (20/10/2021) malam.
Diskusi publik yang bertemakan ‘Arah Penataan Pembangunan Ibukota Kabupaten Kampar’ ini mendapat apresiasi dari Edwin.
“Saya mengapresiasi acara kita malam ini. Saya lahir dan besar di Bangkinang. Bicara penataan ibukota, sebetulnya tidak bisa lari dari dasar filosofis pembangunan itu sendiri,” ucap Edwin.
Edwin menyatakan, arah penataan ibukota Kampar harus ada referensi untuk membuat suatu hal yang dapat menjadikan acuan pembangunan.
“Saat ini, saya tidak bisa melihat arah pembangunan dari kota Bangkinang. Kita kehilangan identitas pengembangan ibukota Kabupaten Kampar,” ujarnya.
“Apakah menjadi kota publik servis, destinasi wisata, kota jasa, kota industri, atau kota apa. Semuanya serba tanggung,” tambahnya lagi.
Ia pun membandingkan arah pembangunan kota Jakarta sebagai ibukota negara yang dibangun oleh Presiden Soekarno kala itu.
Menurut Edwin, dalam pembangunan ibukota negara, bung Karno terlihat begitu rinci dan jelasnya dalam membangun Jakarta.
“Harus ada komitmen besar, kota Bangkinang sebagai daerah penyangga. Harus ada pembangunan jangka panjang dan jangka menengah dalam membangun ibukota,” tegasnya.
Ia pun mengusulkan, agar pihak eksekutif dan legislatif bisa bersinergi berdiskusi menata pembangunan ibukota.
“Ada kesalahan yang keliru, kesalahan kita Pemkab Kampar salah memberikan izin pada kawasan industri. Bayangkan orang lebih senang membangun industri di pinggir ibukota Pekanbaru, di daerah Siak Hulu,” jelasnya.
“Perlu ada komitmen dari pemerintah daerah. Jika kita ingin menjadikan Kampar sebagai kota industri, maka izin pembangunan harus di sekitar kota Bangkinang, ataupun memanfaatkan daerah lain, seperti Kampar kiri dengan begitu semua daerah terintegrasi dengan baik,” imbuhnya lagi.
Begitu pun menjadikan kota destinasi wisata, maka Pemkab Kampar mesti membangun alun-alun kota. Bahkan ia mengusulkan agar pembangunan stadion bisa terintegrasi dengan islamic center.
“Saran, jalan di bundaran mestinya ditutup, jadikan alun-alun kota,” tuturnya.
“Usul, maaf, pagar di islamic itu mesti dilepaskan, dibuka pagar itu, diberikan ruang bagi UMKM. Dengan catatan jaga kebersihan,” katanya lagi.
Alumni SMA Negeri 1 Bangkinang Kota inipun memberikan saran agar kota Bangkinang dibangun jalur sepeda.
Selain itu, Edwin juga menyebut Kampar harus ada moda transportasi yang terintegrasi.
“Saya survei dari 12 kabupaten dan kota yang ada di Riau, kota Bangkinang daerah yang pas bagi pesepeda. Kemudian, konsep stadion kita rubah. Direnovasi menjadi tempat industri, maka stadion itu hidup.
“Selain naik kelas, Kampar harus menjadi juara,” ajaknya.
Tampak diskusi publik ini terlihat mencair dengan membahas isu-isu strategis terhadap arah perkembangan pembangunan ibukota Kabupaten Kampar.
Beberapa pembahasan yang menjadi urgensi bagi narasumber dengan audiens salah satunya permasalahan banjir di kota Bangkinang yang hingga kini belum ada kebijakan yang jelas.
Diskusi publik ini pun menjadi ajang sesi tanya jawab antara pihak eksekutif, legislatif dari partai Golkar bersama para generasi milenial Kampar.(FLS)
