Sabtu, Mei 2, 2026
BerandaDaerahDirgahayu RI ke 74, PLR Taja Bincang Literasi Bertema "Menyusuri Jejak Budaya...

Dirgahayu RI ke 74, PLR Taja Bincang Literasi Bertema “Menyusuri Jejak Budaya Koto Ranah”

ROKANHULU(AuraNEWS.id) – Bincang literasi mengangkat tema “Menyusuri Jejak Budaya Koto Ranah” yang ditaja oleh Pegiat Literasi Rokan Hulu (PLR) diselenggarakan di Desa Koto Ranah, Kecamatan Kabun, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Jum’at (16/8/2019) dari pukul 15.00 hingga pukul 17.30 WIB.

Kehadiran PLR disambut ramah oleh Kepala Desa Koto Ranah, Safrizal dengan memfasilitasi kegiatan bincang literasi dan juga sangat mendukung kegiatan penelusuran jejak budaya Koto Ranah.

“Koto Ranah merupakan daerah tua dan banyak menyimpan tradisi serta budaya yang belum tergali,” jelas Safrizal.

Kegiatan ini merupakan lanjutan kunjungan kemah literasi bulan Juni kemarin. Banyak budaya dan tradisi yang perlu digali di Koto Ranah. Hal ini dipaparkan oleh narasumber M. Suan Ketua RT 11 yang mengetahui tentang sejarah dan budaya Desa Koto Ranah, mulai dari sejarah tentang keberadaan pelabuhan di Sungai Lo pada zaman dahulu hingga upacara adat perkawinan yang mempunyai tiga tahapan yaitu adat meminang, adat balimau, hingga acara adat puncak pernikahannya.

“Jika meminangnya dengan cincin emas, wajib mengadakan pesta adat tujuh hari tujuh malam, tapi pada kondisi sekarang sudah jarang anak kemanakan mengadakan pesta adat ini karena biayanya yang tergolong besar” jelas Suan.

Sementara itu Jamarin anggota BPD Koto Ranah mengatakan, nikah sesuku akan terkena denda adat dengan dibuang dari kampung dengan pepatah, “Buang ka bukik indak baangin, ka lurah indak baaiyu” (Dibuang ke bukit tak ada angin, ke lembah yang tak ada air_red).

“Nikah sesuku akan mendatangkan sumpah bisokowi (kutukan_red) yang akan membawa kesengsaraan sepanjang hidupnya,” papar Jamarin.

Datuk Bendaharo H. M Rasyid selalu Pucuk Suku Koto Ranah memperlihatkan sepasang Lelo (meriam_red) yang usianya sudah sangat tua dan sudah hampir sepuluh tahun tidak pernah dibunyikan lagi.

“Bunyi Lelo ini sangat keras hingga di khawatirkan akan terjadi apa-apa apabila dibunyikan saat ini, sebab banyaknya rumah masyarakat dan tentu saja kita tidak ingin ledakannya bisa membahayakan warga,” pungkasnya.

Kontributor : Suyatri Yatri

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments