
SIJUNJUNG (auranews)-Puluhan warga keturunan Belanda dinaungi Yayasan WNA Belanda melaksanakan Napak Tilas sejarah rel kereta api Muaro Sijunjung- Pekanbaru pada Sabtu (16/5/2026) siang.
WNA keturunan Belanda tersebut sebagian besarnya juga merupakan keturunan para korban Romusha zaman penjahan Jepang.
Selain menelusuri jejak sejarah pada masa perang dunia II, kunjungan WNA Belanda tersebut juga merupakan perjalanan emosional keturunan para pekerja Romusha yang terdiri dari tentara Belanda yang dipaksa bekerja oleh Jepang dalam membangun rel kereta api Muaro-Pekanbaru.
Dimana dalam sejarah kelam tersebut, ribuan nyawa pribumi dan tawanan perang dari kalangan tentara Belanda melayang saat pembangunan jalur juga juga disebut rel “Kereta Api Maut” tersebut.
Dimana dalam sejarahnya, selama masa pendudukan Jepang, banyak warga Belanda yang tinggal di kamp-kamp tahanan di wilayah ini dan meninggal dunia akibat kondisi kerja yang tidak manusiawi.
Pembangunan rel kereta api sepanjang kurang lebih 220 kilometer ini dikenal sebagai salah satu proyek paling mematikan di masa perang.
Jalur ini dimaksudkan untuk mengangkut batu bara dan logistik perang, namun harus dibayar mahal dengan nyawa puluhan ribu romusha, baik dari kalangan pribumi maupun tawanan perang Sekutu.
0
Para tahanan perang Belanda awalnya diangkut dari Padang menggunakan kereta api menuju Payakumbuh, kemudian dibawa menggunakan truk ke Pekanbaru untuk dijadikan pekerja paksa dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Selain menelusuri beberapa lintasan bekas rel kereta api, rombongan WNA keturunan Belanda yang dikawal langsung personel Polres dan Polsek Sijunjung tersebut, juga mengunjungi Ngalau Basurek di Nagari Silokek dan Lokomotif Uap Silukah, Nagari Durian Gadang.
Data yang diperoleh, rombongan keturunan Romusa Belanda itu menelusuri sejarah pembangunan jalur kereta api selama satu hari di wilayah Kabupaten Sijunjung.
Dimana kegiatan tersebut turut menjadi sarana edukasi sejarah dan mempererat hubungan budaya serta kemanusiaan.
Direncanakan pada Minggu (17/5) besok, rombongan Yayasan WNA Belanda itu akan menuju Kota Sawahlunto.
Sebelum melakukan Napak Tilas sejarah pembangunan rel kereta api di Muaro Sijunjung, rombongan tersebut juga sempat mengunjungi Monumen Kereta Api di Simpang Tiga, Kota Pekanbaru.

Adapun nama – nama Warga Negara Asing ( WNA ) asal Belanda yang berkunjung ke Sijunjung sbb :
1. Marjolein Muller (2 Desember 1961)
2. Peter van Tijn ( 05 Febriari 1942)
3. Miep van Verseveld (12 Februari 1942)
4. Paul Nieland (21 Maret 1954)
5. Sandra Nijholt (19 Januari 1963)
6. Jan Willem Mulder (23 Maret 1964)
7. Tineke Tieleman ( 21 April 1964)
8. Maarten Mulder (9 Oktober 1962)
9. Ellen Princen ( 22 April 1964)
10. Paul van Veen ( 21 Juli 1958)
11. Abco van Meekeren (24 Juni 1964)
12. Ronald Last (9 Januari 1949)
13. Helen Havermans (19 Desember 1966)
14. Rudi Luursema (04 Mei 1962)
15. Dirk de Graaf (26 Juli 1940)
16. Hannie Hobma ( 8 Juni 1943)
17. Marlous Lash (21 September 1950)
18. Jacqueline van der Spek (17 Juni 1961)
19. Jan Siebold Dorsch (27-Mei-1939)
20. Laura Maatje Wattel e/v Dorsc – (23 Mei 1940)
21. Wendy Vervuurt (20 Desember 1965)
22. Louise Soons ( 15 Oktober1942)
23. Rob Straatman (8 April 1949)
24. Charles Vodegel (21 Oktober 1939)
25. Tineke Heuvel, van den ( 23 Juni 1940)
26. Jan Saveur – (3- Oktober 1967)
28. Martje Hofstee (17- April 1960)
29. Ida Saveur (9 September 1943)
30. Eric Sinninghe ( 9 Agustus 1945)
31. Osvian Osvian Putra ( 9 Juni 1972) sebagai Tour Guide. (HenOcu)
